CINTA
Your Name Is "D"
by: Marliyana
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
by: Marliyana
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulilah ya Alloh atas segala nikamt yang telah Engkau berikan kepada saya hari ini. Alhamdulilah teramat banyak arus gelombang hidup yang harus saya jalani setahun lalu. Hingga di tahun yang telah lewat dua bulan ini menjadikan saya untuk semakin dekat denganMu.
Refleksi hidup menjadi blog terbaru untuk saya, memulai menjadi pribadi seseorang yang jauh lebih dewasa dan menjadi seorang istri serta ibu yang baik bagi calon anak-anak saya nanti Insyaalloh. Tepat dua hari menjelang hari kelahiran dan di usia yang beranjak dewasa, saya ingin menjadi orang yang terus belajar dan terus belajar menjadi orang yang terkuat dan tidak lemah.
Belajar mencintai orang yang menyayangi diri saya. Sahabat-sahabatku, kedua orang tua dan rekan-rekan kerja. Dialah sosok orang yang membuat saya kuat hingga detik ini. Oiya, di samping itu, saya juga ingiiin sekali memperkenalkan seseorang yang menjadikan saya lebih dewasa untuk menjalani kehidupan ini. Sedikit malu sih memperkenalkan sosoknya yang insyaalloh akan menjadi suami saya. amiin
Baiklah saya akan menceritakan sedikit pertemuan siapa dirinya. Hmmm..
25 juli 2014, ahad.
Suasana senja disore hari menyambut saya dan keluarga untuk tiba di kampung halaman tercinta. Wonosari, Gunung Kidul Yogyakarta. Sesaat menjelang berbuka puasa saya bersama keluarga keluar dari mobil menuju pintu yang terletak tak jauh dari mobil yang telah terparkir di halaman depan rumah si mbah. Saat ini, tak terlihat seseorang di dalam. Mungkin mereka semua sedang sibuk menyiapkan menu berbuka puasa "pikirku"
Tok..tok...kedua pintu mengetok-ngetok dengan perlahan
"Assalamu'alaikum...suara sayup sayup terdengar dari dalam rumah si mbah, ternyata si Mbah Putri segera menghampiri dan membuka pintu. Dilihatnya cucu dan anak perempuan serta menantunya datang. Aku memeluk erat tubuh si Mbah Putri perlahan. Wajahnya lusuh dan tubuhnya sangat kurus. Aku mencium pipi si mbah yang terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan kami yang jauh. Benar saja dua tahun sekali kami pulang ke kampung halaman sekedar bersilahturahmi bersama keluarga di kampung.
Kedua mataku melihat sekeliling dengan penuh seksama dan memperhatikan tatanan meja ruang tamu yang tidak sama dengan tahun lalu. Sejak gempa tahun 2011, sebagian ruangan menjadi rusak dan kini terlihat menjadi sempit tidak seperti dulu. Tetapi, saya suka bangku-bangku yang terlihat lusuh dengan tempelan lukisan pemandangan masih di rawat dengan baik.
Kami semua beristirahat di ruang tamu, lima menit lagi adzan maghrib dan berbuka puasa. Saya memutuskan untuk ke kamar mandi, dan membantu bude dan anaknya menyiapkan menu berbuka puasa. Perjalanan 24 jam sanggat melelahkan. Berangkat jumat malam dan baru sampai ahad sore. Bekasi menuju Yogyakarta sangat membosankan namun, setelah sampai rasa lelah itu tidak bisa di bayar dengan apapun.
Disinilah suasana berbuka puasa yang sangat menyenangkan.
Selesai berbuka puasa, saya mengikuti shalat tarawih bersama si Mbah Putri, bude, dan kedua keponakan kembarku yang cantik-cantik. Tanpa terasa besok sudah takbiran dan saya merasa sedih sebab memiliki hutang puasa.
Sinar matahari menusuk kedalam jendela kamarku. Tidak pernah saya merasakan kesejukkan di saat sinar matahari itu menusuk. Apakah semalam Lailatul Qodar?? astaqfirullah saya melewati malam terakhir di malam lailatul qodar. Ahhhhhh...semoga itikaf yang saya jalani kemarin selama dua hari Alloh segera menjawab do'a saya. (berharap dimudahkan mendapatkan jodoh). Pagi berganti siang dan siang pun menjadikan saya untuk berjalan-jalan menikmati kampung halaman. Setelah beberapa kepenatan menghampiri saya di bekasi.
Di samping ini adalah pemandangan yang jarang saya temui di bekasi. Di sini udaranya sangat bersih dan biarpun siang hari dan puasa tidak ada alasan untuk bermalas-malasan untuk tidur di siang hari. Seperti si Mbah di sana yang sedang sibuk menyapu selokan sambil memunggut daun-daun kering. Subhanalloh..
Dan gambar selanjutnya saya berusaha mengukir sebuah nama yang saya sebut namanya dalam doa di saat malam menjelang shalat tahajud. Nama itu yang membuat saya yakin dan berniat untuk menjadi istrinya. Namun, ternyata nama itu bukanlah yang Alloh pilih. Orang itu bahkan dia sudah menikah. Bahkan tahun ini dirinya sudah berstatus menjadi suami. Ini adalah jalanan turunan loh tetapi, demi menuliskan namanya saya sanggup melalukannya. ^_^
Next...sore haripun tiba. Saya berniat untuk bermain ke rumah keponakkan kembar saya. Kebetulan sekali pada saat bulan Ramadhan pesantrennya libur. Banyak sekali cerita yang saya obrolkan kepada mereka. Termasuk kepada lawan jenis. hehehe.. ternyata masih ada loh anak-anak yang malu di tanyakan lawan jenis. Tidak seperti di kota. Anak-anak beda lawan jenis bergandengan seenaknya tanpa berpikir tempat umum.
Inisial "D" adalah nama panggilan dan sebenarnya adalah Nama kita sama-sama berawalan huruf depan "M".
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Di sinilah awal pertemuan saya dengan orang yang mempunyai nama huruf depan "D". Saat sedang asyik ngobrol tiba-tiba bulek istri dari adik kandung ibuku memanggil. "Mba yana, ..ke sini, sini loh ada yang mau kenalan" sahut bulek kepada saya. Saya melirikan kedua mata saya menatap si kembar. Sepertinya ada yang disembunyikan nih." pikir saya binggung. Begegas saya langsung keluar kamar dan pamit kepada keponakan saya untuk menghampiri bulek. Dengan langkah sedikit mengontai saya melihat ke ruang tamu.
"Astagfirullah..laki-laki.."gumamku kaget. Sedikit gugup dan gemetar sekali tubuhku. Rasanya ingin kabur namun, ada bulek. "Ayo.. sini mba yana. Kenalkan loh ini keponakan bulek di bogor." ucap bulek dengan lantang. Dengan wajah yang polos saya menyapa dengan senyuman dan salam
"Assalamu'alaikum.." tentunya tanpa berjabat tangan dan menatap lama. Sehingga saya memutuskan untuk kembali ke kamar melanjutkan cerita kami bertiga yang terputus.
"Tadi siapa mba??" tanya Aisyah dan Anisa dengan senyum.
"Hmm....itu keponakan ibu kalian.Eh, tapi kok kalian tidak bilang kalau ada yang mau dateng?? tanya aku heran.
"Hayoooo...sengaja ya??" ledek saya kepada kedua keponakan kembarku.
"Loh, kita juga ndak tau loh mba. "jawab mereka berdua kompak.Akhirnya saya memutuskan untuk kerumah si Mbah untuk membantu menyiapkan menu berbuka puasa. Tanpa sepengetahuan tradisi di sini adalah membiasakan makan bersama di rumah Si Mbah Putri dan Putra, bagi mereka bukan makanan yang enak membuat kami berkumpul. Tetapi menjaga silahturahmi sekalipun hanya dengan makan singkong rebus.
Bulek dan om serta anaknya kembar ikut dan orang yang tadi main ke rumah om juga ada. Rasanya gugup tapi, mau bagaimana lagi, aku menjadi bahas perbincangan setiap makan. Sontak pipiku merah merekah senyuman terus aku lontarkan. Begitupun tatapan matapun sepertinya menatap kearahnya sesekali. Mungkin lebih dari satu kali.Malam takbiran pun tiba...
Rasanya aku ingin ikutan ke masjid untuk bersilahturahmi dengan penduduk di kampung halaman, serta melihat takbiran keliling atau beduk keliling. Tradisi setiap tahun masih dilestarikan hingga kini. Pawai beduk berkeliling guna meramaikan suasana malam takbiran. Dan inilah awal pertemuan kami dan insyaalloh hingga detik ini kami memutuskan untuk Ta'aruf .
Berkenalan dengan keluarga saya yang berada di Bekasi, begitupun saya berkenalan dengan keluarga serta adiknya yang berada di Bogor. Perkenalan (Ta'aruf) ini juga diketahui oleh Murabbi saya. Semoga Alloh memudahkan langkah dan niat baik kami berdua untuk menyempurnakan ibadah kami. Dengan melangsungkan akad nikah dan resepsi tahun 2015 ini. BismillahNote:
Inisial "D" adalah nama panggilan dan sebenarnya adalah Nama kita sama-sama berawalan huruf depan "M".
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh




Komentar
Posting Komentar